Golkar Mengkritik Penurunan Suara Jokowi Diakibatkan Partai PSI

Makviral.com – Koalisi Jokowi lagi-lagi bentrok sendiri. Kini elite Golkar dan PSI saling serang karena hasil survei terbaru.

Survei Litbang Kompas mengindikasikan bahwa pemilih mempunyai resistensi terhadap parpol-parpol tertentu. Litbang Kompas mengaku resistensi terbesar di kumpulan partai baru dirasakan oleh PSI. Elektabilitas PSI melulu 0,9 persen, tetapi resistensinya sedang di angka 5,6 persen.

Elite Golkar, Andi Sinulingga, menyalahkan PSI atas turunnya elektabilitas capres yang sama-sama mereka usung, Joko Widodo (Jokowi). Di survei Litbang Kompas, elektabilitas Jokowi dari Oktober 2018 ke Maret 2019 turun.

“Blunder PSI menyerahkan sumbangan pada turunnya elektabilitas Jokowi. Resistensi rakyat terhadap PSI tinggi sekali dan itu dominan negatif pada Jokowi,” kata Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar tersebut kepada wartawan, Jumat (22/3/2019).

Dia pun mempersoalkan narasi PSI soal perda syariah. Seperti diketahui, PSI lewat ketumnya, Grace Natalie, berkali-kali berkata tentang penolakan perda berbasis agama dan urusan tersebut menimbulkan pro dan kontra.

“Narasi PSI atas perda syariah berkonotasi negatif atas apa yang disebut syariah Islam, seakan-akan syariah Islam tersebut tidak baik. Hal-hal seperti tersebut menyakitkan untuk sebagian besar pemeluk agama Islam,” ujar Andi.

Baca Juga : Timnas Garuda Dihancurkan Gajah Thailand 0 – 4

“Jadi wajar bila hasil survei menyatakan bahwa resistensi publik atas PSI tinggi sekali,” ujarnya.
Tudingan Andi ini ditepis Ketua DPP PSI Tsamara Amany. Dia memandang urusan tersebut cuma asumsi.
Pernyataan Tsamara ini dipermasalahkan lagi oleh Andi Sinulingga. Tudingannya dirasakan cuma asumsi, Andi menilai politikus PSI laksana anak kecil dan nalarnya dangkal.

“Intuisi politik anak-anak PSI tersebut lemah namun keminter. Tidak tertulis di keterangan survei bukan berarti tak ada. Kesimpulan pilpres ketat pun tidak tertulis di survei, namun orang lumayan membaca data dan menyimpulkannya,” ujar Andi.

“Tidak terdapat korelasi antara penurunan elektabilitas dan PSI. Hasil survei Kompas tidak mengaku adanya korelasi demikian,” kata Tsamara Amany.

Baca Juga : Warga Mengeluh Pencairan Dana OK Oce

“Jadi dalil ini tidak cukup ilmiah dan basisnya asumsi. Elite parpol seharusnya berbasis data, tidak boleh asumsi. Itu bahaya,” sambungnya.
Menurutnya, PSI sekitar ini telah identik dengan Jokowi. Oleh karena itu, persepsi publik terhadap PSI pun berimbas pada capres nomor urut 01 tersebut.

“PSI tersebut sudah terasosiasi dengan Jokowi walau ‘berkah’ elektoralnya pun tidak ke mereka. Sementara buruknya persepsi publik atas PSI itu dominan pada citra Jokowi. Itu yang mereka nggak paham-paham dan nggak dapat diberi pemahaman,” ungkapnya.

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *